Keluarga Kerajaan Islam IV
Ali vs Aisha
Oleh Silas
SURAT 49. AL HUJURAAT 9
Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.
SURAT 49. AL HUJURAAT 10
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.[2]
PERANG SAUDARA : ALI VS AL ZUHAYR DAN TALHA DENGAN AISHA
Sahih Bukhari, Volume 7, Book 68, Number 458:
Narrated Abu Bakra:
The Prophet said, “Time has come back to its original state which it had on the day Allah created the Heavens and the Earth. The year is twelve months, four of which are sacred, three of them are in succession, namely Dhul-Qa’da, Dhul Hijja and Muharram, (the fourth being) Rajab Mudar which is between Juma’da (ath-thamj and Sha’ban. The Prophet then asked, “Which month is this?” We said, “Allah and his Apostle know better.” He kept silent so long that we thought that he would call it by a name other than its real name. He said, “Isn’t it the month of Dhul-Hijja?” We said, “Yes.” He said, “Which town is this?” We said, “Allah and His Apostle know better.” He kept silent so long that we thought that he would call it t,y a name other than its real name. He said, “isn’t it the town (of Mecca)?” We replied, “Yes.” He said, “What day is today?” We replied, “Allah and His Apostle know better.” He kept silent so long that we thought that he would call it by a name other than its real name. He said, “Isn’t it the day of Nahr?” We replied, “Yes.” He then said, “Your blood, properties and honor are as sacred to one another as this day of yours in this town of yours in this month of yours. You will meet your Lord, and He will ask you about your deeds. Beware! Do not go astray after me by cutting the necks of each other. It is incumbent upon those who are present to convey this message to those who are absent, for some of those to whom it is conveyed may comprehend it better than some of those who have heard it directly.” (Muhammad, the sub-narrator, on mentioning this used to say: The Prophet then said, “No doubt! Haven’t I delivered (Allah’s) Message (to you)? Haven’t I delivered Allah’s message (to you)?” [3]
TOKOH-TOKOH KUNCI
Ali – menantu Muhammad yang menikah dengan Fatima, puteri Muhammad. Ali juga jago perang. Ali adalah keempat dari “The Rightly Guided Caliphs.” Ali berputera dua : Hasan dan Husein.
Aisha — masihkah perlu diperkenalkan? Karena dendamnya yang terus menyala terhadap Ali (akibat tuduhan zinah itu), ia memimpin pasukan melawan pasukan Ali dalam Perang Onta (Perang Jamal).
Al-Zubayr – Muslim ternama dan sahabat Muhammad terdekat serta murid paling berdedikasi. Ia memainkan peranan penting.
Talha - Muslim terkemuka, teman dekat Muhammad, tidak suka pada Ali. Dipaksa bersumpah setia kepada Ali, namun akhirnya memerangi Ali dengan berpihak pada Aisha.
Muawiyah – Lebih jelasnya dalam Islam’s Royal Family V.
LATAR BELAKANG
Medinah, 722 M : tiga kelompok Muslim (orang Mesir, Basra dan Kufa - Basra dan Kufa kini terdapat di Irak), berbaris menghadapi Usman di Medinah dan berakibat pada terbunuhnya Usman. Anehnya, masing-masing kelompok Muslim diatas mendukung masing-masing “Sahabat” yang ingin menjadi Kalif. Kaum Mesir mendukung Ali, orang Basra ingin Talha dan orang Kufa ingin Zubayr. Jelas diantara merekapun, tidak ada keserasian.
Setelah terbunuhnya Usman, masyarakat Muslim mulai bingung mencari pemimpin baru. Akhirnya di Medinah, Ali diangkat jadi Kalif.
…
Kemudian, masing-masing kelompok Muslim mulai menyatakakan dukungan (janji setia) kepada Ali. Tetapi proses ini tidak berjalan dengan mulus…
Dari ‘The History Of Tabari’, Volume 16 [4]
Lalu mereka membawa Sa’d dan Ali mengatakan, “Berikan dukunganmu.” Namun ia jawab, “Saya tidak akan melakukannya sebelum rakyat memberikannya, tetapi percayalah, tidak ada yang perlu kau khawatirkan dariku.” Ali mengatakan, “Biarkan ia pergi.” Lalu mereka membawa Ibn Umar, dan Ali mengatakan, “Berikan dukunganmu.” Dan ia menjawab, saya tidak akan melakukannya sebelum rakyat memberikannya. “Bawa saya seorang penjamin,” kata Ali padanya. “Saya tidak melihat alasan mengapa,” jawab Ibn Umar, “BIARKAN SAYA POTONG KEPALANYA,” kata Al-Ashtar, yang dijawab oleh Ali, “Jangan, biarkan dia! Saya yang akan jadi penjaminnya. Saya tahu; sebagai lelaki dewasa kau sama kasarnya dengan ketika kau masih anak-anak.” (page 4)
Catatan: Ibn Umar adalah putera Kalif kedua - Umar.
…Lalu ia memanggil Al-Zubayr dan Talhah. Ia mengundang mereka untuk memberikan dukungan mereka padanya, tetapi Talhah menunda. Sambil menarik pedangnya, Malik Al-Ashtar kemudian mengatakan, “Demi Allah! Sebaiknya kau memberikan dukunganmu, atau saya akan MEMENGGAL KEPALAMU.” “Tidak ada jalan keluar dari sini,” kata Talhah dan ia memberkan dukungannya, yang kemudian diikuti dengan Al-Zubayr dan lain-lain…Beberapa waktu kemudian mereka menjelaskan, “Kami hanya melakukannya karena ingin menyelamatkan nyawa kami, karena kamu tahu, ia (Ali) tidak akan pernah memberikan dukungannya pada kami.”
Talhah mengatakan, “Saya memberikan janji setia dengan pedang diatas kepala saya.” …Rakyat memberikan janji setia kepada Ali di Medinah, tetapi tujuh lelaki hati-hati dan tidak menyatakan kesetiaan mereka padanya. Mereka itu adalah Sad Waqqas, Ibn Umar, Suhayb, Zayd Thabit, Muhammad Maslamah, Salamah Waqsh, dan Usamah Zayd. (page 9)
Kutipan-kutipan diatas menunjukkan bahwa, bahkan Muslim-muslim yang paling tua dan terhormatpun, keberatan atas Ali.
Nah, setelah Ali susah payah menuntut janji setia pada pengikutnya dan akhirnya menjadi Kalif, PROBLEMA lain masih menunggunya. Kelompok-kelompok Muslim yang bekerja sama untuk mendepak Usman, masih lalu lalang di Medinah. Mereka seperti domba tanpa penggembala dan ingin membereskan persoalan, sesuai dengan keinginan mereka…
Orang Mesir mengatakan, “Terserah kalian, rakyat Medinah. Demi Allah, kami berikan kalian dua hari! Kalau kalian tidak membereskannya (tidak jelas, apa yang dimaksudkan disini), besok kami akan membunuh Ali, Talhah dan Al-Zubayr dan banyak lagi orang-orang lain.” Penduduk menghadap Ali dan mengatakan, “Kami memberikanmu janji setia kami, karena kau melihat apa yang terjadi dengan Islam dan berapa banyak penderitaan kami dibawah para anggota keluarga.” [anggota keluarga = hasil nepotisme Usman]. (hal 13)
Jadi, Ali menjadi Kalif dan para sahabat dan penduduk menuntut keadilan atas pembunuhan Usman. Namun, pembunuh-pembunuh itulah yang saat ini memegang kekuasaan.
Lalu, ketika Ali masuk ke rumahnya, Talhah dan Al-Zubayr bersama dengan beberapa sahabat, mengatakan : “Ali! Kami sudah memutuskan agar hukuman Allah diberlakukan. Orang-orang ini berpartisipasi dalam kematian Usman dan oleh karena itu tidak berhak atas nyawa mereka.” “Teman-teman saya,” jawab Ali, “Saya tahu apa yang kalian tahu, tetapi bagaimana saya dapat mengatasi orang yang memerintah kami dan bukan kami yang memerintah mereka? Budak-budak kalian sendiri memberontak dengan mereka, dan kaum Badui kalian bergabung dengan mereka. Mereka hidup bersama kalian, memaksakan kehendak mereka. Nah, dapatkan kalian melihat cara untuk mencapai apa yang kalian mau?” “Tidak,” kata mereka, “Betul,” jawab Ali…sebelum rakyat tenang dan kembali berpikir sehat, baru segala tuntutan bisa dibereskan. Berhentilah mengeluh pada saya … (hal 18)
Namun tidak semua Sahabat yang setuju dengan pendekatan Ali yang nampaknya tidak terburu-buru menjatuhkan keadilan terhadap para pembunuh Usman.
Waktu berlangsung dan Ibn Abbas (orang yang menuntut warisan Muhammad dan mengutuk Ali ketika tidak mendapatkan apa-apa), mengunjungi Ali. Abbas sudah menasehatkan Ali untuk meninggalkan kota sebelum tewasnya Usman, tetapi Ali telah menolak nasehatnya…
Ibn Abbas mengatakan : “Apa yang seharusnya kau lakukan adalah pergi ke Mekah saat orang itu dibunuh atau bahkan sebelum itu, masuk rumahmu dan kunci pintumu. Maka, orang Arab yang marah akan mencari dukunganmu. Namun kini, ada diantara clan Umayyad [clan Usman], yang menyetujui pembalasan atas kematian Usman, yang mengatakan bahwa kau mengambil bagian dalam pembunuhannya itu. Mereka akan menyampaikan tuntutan sama dengan tuntutan orang Medinah…” (hal 21)
Tokoh lain dalam tragedi Muslim ini adalah MUAWIYAH (gubernur Syria). Ia menunggu dibelakang layar dengan tenang meninjau kearah mana politik Muslim ini. Ibn Abbas meramalkan peran Muawiyah kepada Ali…
“Kau tahu bahwa Muawiyah dan sekutu-sekutunya adalah orang-orang yang hanya peduli dengan hal duniawi,” kata Ibn Abbas, “dan kalau kau memberikan mereka jabatan, mereka tidak peduli siapa yang menjadi pemimpin mereka”…Namun Ali tidak mengacuhkan nasehatnya dan mengatakan kepada Ibn Abbas, “Pergi ke Syria! Kau saya tunjuk jadi gubernur.” “Ini bukan keputusan baik,” jawab Ibn Abbas. “Muawiyah adalah pemimpin Banu Umayyah. Ia adalah putera dari adik ayah Usman (keponakan Usman) dan gubernur Syria. Saya tidak akan selamat dari upayanya memenggal leher saya sebagai pembalasan atas Usman. Atau paling sedikit ia akan melempar saya ke penjara.” “Mengapa?” Ali bertanya. “Karena kau dan saya berhubungan saudara, dan karena apa yang dituduhkan padamu, juga dituduhkan pada saya” kata Ibn Abbas…(page 22)
Ali mulai panik, sadar bahwa Sahabat yang tidak menyukai dirinya akan menganggap dirinya bertanggung jawab atas pembunuhan Usman. Kini ia mencoba menyalahkan orang lain dan mengalihkan perhatian dari dirinya.
“Ali mengatakan, demi Allah! Kami tahu bahwa mereka [Talha dan Al-Zubayr] adalah orang-orang yang membunuh Usman.” (hal 23)
…”Demi Allah! Saya akan memberikannya [Muawiyah] tidak lain dari PEDANG.” (page 24)
Demikianlah latar belakangnya, hampir kesemua tokoh kunci telah diperkenalkan kepada anda. Anda lihat bahwa masing-masing faksi terpecah-pecah. Ada yang memberikan janji setia, ada yang menariknya kembali, sementara rakyat semakin getol menyerukan keadilan (baca : pelampiasan dendam). Saat ia memerintah, Usman tidak disukai, tetapi setelah mati, ada saja orang yang menuntut keadilan. Muslim-muslim pertama ini memang merepotkan.
…
Papan catur sudah dipersiapkan. Masing-masing siap pada posisinya. Talha dan Al-Zubayr diijinkan meninggalkan Medinah. Dan karena janji setia mereka kepada Ali memang tidak tulus, maka mereka mengumpulkan pasukan untuk melawan Ali.
Untuk menghadapi mereka, Ali kemudian muncul didepan pengikutnya dan berpidato…
“Talhah dan Al-Zubayr DAN UMMUL MUKMININ [AISHA] bergabung untuk menantang kekuasaan saya dan menyerukan kepada rakyat untuk melawan saya…(hal 34)
Belum lagi selesai, Ali mendapatkan satu lagi musuh : Ibn Umar (putera Umar), Muslim yang sangat populer dan dihormati secara luas BERGABUNG DENGAN MUAWIYAH!
Jadi : Ali vs Al Zubayr + Talhah + Aisha + Muawiyah dan Ibn Umar…singkatnya : Muslim vs Muslim. Sedap! SHOCKED…SHOCKED…SHOCKED
AISHA
Tapi pukulan terbesar datang dari Aisha, wanita yang paling dicintai dan dihormati dalam Islam, kini secara terbuka menantang Ali. Di Mekah, ia berpidato berapi-api, membakar semangat Muslim, menuntut keadilan dan balas dendam. Ia juga menuduh Ali terlibat dalam pembunuhan Usman.
Anehnya, Aisha sendiri tidak terlalu suka Usman. Aisha bahkan menentang Usman secara terbuka, selama masa pemerintahnya. Malahan, ia setuju dengan terbunuhnya Ali…
Umm Kilab mengatakan kepadanya [Aisha], ‘Demi Allah! Bagaimana mungkin bahwa kau yang pertama yang paling suka menusukkan pisau kedalam Usman, kini mengatakan “Bunuh Na’thal, karena ia telah menjadi kafir.” (hal 52, 53)
[Na’thal adalah julukan menghina bagi Usman yang berarti "hyena"]
Jadi Aisha, seorang oportunis licik, menggunakan kesempatan ini untuk melawan Ali. Dendamnya terhadap Ali karena pernah menuduhnya berzinah, kali ini bisa ia lampiaskan. Sebagai akibat provokasi Aisha, clan Umayyad di Mekah mendukungnya melawan Ali. Talha, Zubayr dan clan-clan lain mengikutinya.
…
Akhirnya, perang baru dalam sejarah Islam dimulai kembali. Ali berbaris menuju Basra dan Aisha dan pasukannya menemuinya. Kedua pasukan mereka sampai berjumlah puluhan ribu.
PERANG ONTA/PERANG JAMAL/PERANG BASRA
Tempat : dekat Basra, 656 M. Ini perang yang sangat sengit. Kedua pihak sama kuatnya. Aisha terus membakar semangat pengikutnya dan orang-orang Ali bertempur seperti singa. Mereka sama-sama bengis dan keras. Hari itu mereka tidak takut mati. Akhirnya, perhatian beralih kepada Aisha. Ia duduk dalam tenda diatas ontanya (‘howdah’), memanas-manasi pasukannya. Orang-orang Ali pelan-pelan mendekatinya namun orang-orang Aisha melindunginya. Namun orang-orang Ali lebih kuat dan membunuh lawan mereka. Akhirnya, howdahnya Aisha penuh dengan panah dan hampir membunuh Ummul Mukminin. Akhirnya, onta Aisha digantung; pengikutnya kalah. Dan Zubayr dan Talha tewas dalam pertempuran.
Seseorang bernama Amr Ibn Jarmouz membunuh Zubair SAAT SEDANG SOLAT!!!
Korban yang jatuh sangat tinggi…Sekitar 10.000 Muslim mati. Setengahnya dari Ali dan setengahnya dari Aisha…Dalam pertempuran ronde pertama, 5000 orang Basra tewas dan dalam ronde kedua, 5000 tewas, sehingga jumlah korban adalah : 10.000 orang Basra dan 5.000 orang Kufa. (hal 164)
Menurut situs Islam click here
Some historians say that 16,796 men of Aisha’s forces, and 1,070 of Ali’s army were killed.
Aisha akhirnya mengalah kepada Ali. Ali memperlakukannya dengan baik dan mengirimkannya ke Medinah, dibawah kurungan rumah. Ali masih sudi memaafkannya sampai orang-orang yang mengejeknya dihukumnya. Aisha wafat pada usia 63.
Satu hal interesan : Ali mengangkat Muhammad B. Abi Bakr sebagai gubernur Mesir (hal 184, 187). Muhammad B. Abi Bakr adalah salah seorang pembunuh Usman. Nampaknya, para pembunuh memang tidak mendapat ganjaran sepantasnya, sehingga kecurigaan terhadap Ali semakin meningkat. Jelas, bahwa pembunuhan Usman merupakan awal agresi Muslim vs Muslim
…
DISKUSI
LIHATLAH BUAH HASIL ISLAM. Darah pengikut menderas di gurun pasir. Para pemimpin Islam, Sahabat-sahabat terdekat (Radi Allahu Anhu) dan keluarga Muhammad sendiri merupakan awal pertumpahan darah ini. Bukannya mereka saling mengarahkan, memperkuat dan memakmurkan sesama Muslim dibawah naungan mereka, mereka malah dijadikan korban. Sang Ummul Mukminin “radhiyallahu anhum ajmain” memakan anak-anaknya sendiri!
PS : Aisha sendiri melanggar aturan Al-Quran
click here
[33.33] dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu …
Inilah “Royal Family” Muhammad. Mereka yang paling mengetahu isi Al-Quran dan Muhammad luar-dalam, malah membawa bibit-bibit menghancurkan dalam Islam. Puluhan ribu pengikut mati. Para gembala telah menjerumuskan pengikut mereka.
Kalau Islam memang benar-benar dari Tuhan, kalau Islam memang memiliki sejengkalpun nilai-nilai spiritual, bukankah Muslim-muslim ini mematuhi ajaran Muhammad untuk tidak saling membunuh? (Dan sebaliknya hanya membunuhi kafir saja?)
Malah dalam satu generasi setelah matinya Muhammad, Muslim sudah saling cakar mencakar…dan ceritanya tidak selesai disini…Sama sekali tidak. Bibit Islam sedang mengakar dalam hati para pengikutnya dan pesta Setan berikutnya masih akan menyusul.
REFERENSI
1) The Bible, New International Version, pub. by Zondervan, Grand Rapids, Michigan
2) The Nobel Quran, translated by Dr. Muhammad Taqi-ud-Din Al-Hilali and Dr. Muhammad Muhsin Khan, published by Maktaba Dar-us-Salam, PO Box 21441, Riyadh 11475, Saudi Arabia, 1994
3) Bukhari, Muhammad, “Sahih Bukhari”, Kitab Bhavan, New Delhi, India, 1987, translated by M. Khan
4) al-Tabari, “The History of al-Tabari”, (Ta’rikh al-rusul wa’l-muluk), State University of New York Press 1993
bersambung…
Islam’s Royal Family I
Islam’s Royal Family II
Islam’s Royal Family III
Islam’s Royal Family IV
Islam’s Royal Family V
Tags: Agama, Al-Quran, Hadis, Islam, Muhammad, Muslim, Religion, Royal Family